Rabu, 21 Oktober 2015

Kekuasaan

Pendahuluan

 Kita adalah bagian dari masyarakat yang dipimpin oleh seorang presiden dan wakil presiden. Seorang presiden memiliki wewenang dan kekuasaan dalam menjaga suatu keutuhan negara. Namun bukan hanya presiden saja yang memiliki kekuasaan.

Beberapa individu akan mendapat kekuasaan dan wewenang dalam mengatur sesuatu. Hal ini dapat kita lihat dari perbedaan tingkat dan status sosialnya. Semakin tinggi status dan tingkatnya, maka makin tinggi pula wewenang dan kekuasaan yang mereka miliki. Saat ini kita sering melihat bagaimana orang dengan status dan tingkat yang tinggi tidak menggunakan dan memanfaatkan kekuasaan yang ia miliki dengan baik. Mereka memanfaatkan kekuasaan yang ia miliki hanya untuk kesenangan pribadi saja dan bukan untuk masyarakat banyak.

Di bahasan sebelumnya, kami sudah membahas mengenai wewenang. Pada bahasan kali ini kami akan membahas mengenai kekuasaan. Semoga dengan adanya informasi yang kami berikan ini dapat membantu bagi mereka yang membacanya.

Definisi Kekuasaan

Kekuasaan selalu diidentikan dengan kata “pemimpin”. Pemimpin memiliki pengaruh yang besar terhadap lingkungan yang ia kendalikan. Bagus atau tidaknya suatu lingkungan dapat kita lihat dari bagaimana pemimpin menggunakan kekuasaannya. Namun kita tidak dapat menyalahkan pemimpin begitu saja, masyarakat yang dipimpin oleh individu tersebut harus juga bergerak. Apabila dirasa pemimpinnya kurang bijak dalam menggunakan kekuasaannya, maka masyarakat tersebut harus berusaha membantu dan memperbaikinya.

Max Weber (1962) dalam bukunya yang berjudul Basic Concepts in Sociology mengatakan bahwa kekuasaan sebagai peluang yang terjadi dalam suatu hubungan sosial yang memungkinkan seseorang mendapatkan apa yang ia inginkan walaupun terdapat resistensi. Disini kita dapat melihat bahwa suatu kekuasaan mungkin saja dapat membuat dan menjalin sebuah hubungan sosial yang baik baik didalam maupun diluar area kekuasaannya. Jika dapat memperluas hubungan sosial sampai keluar area kekuasannya maka semakin terbuka lebar untuk menjalin kerjasama yang baik antar dua pihak.

Jika kita mengacu pada definisi politik, Stephen Robbins (2007) dalam bukunya yang berjudul Organizational Behavior memberikan definisi bahwa kekuasaan sebagai kapasitas yang dimiliki seseorang untuk mempengaruhi orang lain agar bertingkah laku  sesuai dengan apa yang ia kehendaki.

Mengacu pada definisi diatas kita dapat menyimpulkan bahwa kekuasaan bisa saja memberikan dampak kepada orang lain yang seharusnya orang lain tidak melakukan itu. Dalam arti adanya pengaruh dapat membuat seseorang tidak bertindak secara alamiah

Sumber-Sumber Kekuasaan Menurut French dan Raven  

Psikolog sosial Michigan, French dan Raven menggunakan definisi yang sama dalam membahas teori lapangannya Lewin mengenai kekuasaan. Menurutnya kekuasaan adalah kemampuan potensial dari seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi yang lainnya didalam system yang ada (dalam Roderick Martin: 71).

Tetapi penghalusan terhadap konsep Weber yang kini tampaknya paling menonjol disodorkan oleh Dahrendorf dan Blau. Merekalah yang berhasil menembus kelemahan tertentu yang ada pada teori-teori Weber, sebagaimana yang tampak umumnya pada pengembangan pendekatan Weber. Setelah secara blak-blakan mendukung definisi Weber, kemudian Dahrendorf mengemukakan bahwa “kekuasaan adalah milik kelompok, milik individu-individu daripada milik struktur sosial”, (dalam Roderick Martin: 71). Perbedaan yang penting adalah kekuasaan dengan otoritas terletak pada kenyataan bahwa kalau kekuasaan pada hakekatnya diletakan pada kepribadian individu, maka otoritas selalu dikaitkan dengan posisi atau peranan sosial-kekuasaan, selalu merupakan suatu hubungan yang faktual, sedangkan otoritas merupakan suatu hubungan yang logis.

Perumusan yang menghilangkan wujud hubungan kekuasaan yang tidak terstruktur atau yang terjadi secara berulang-ulang ini merupakan sumber utama yang memunculkan konflik sosial. French dan Raven mendefinisikan kekuasaan berdasarkan pada pengaruh dan pengaruh berdasarkan pada pengubahan psikologis. Pengaruh adalah pengendalian yang dilakukan oleh seseorang dalam organisasi maupun dalam masyarakat terhadap orang lain. Konsep penting atas  dasar gagasan ini adalah bahwa kekuasaan merupakan pengaruh laten (terpendam), sedangkan pengaruh merupakan kekuasaan dalam kenyataan yang direalisasikan.

French dan Raven mengidentifikasikan lima sumber basis kekuasaan.
1.    Kekuasaan balas jasa (reward power)
2.    Kekuasaan paksaan (coercive power)
3.    Kekuasaan sah (legitimate power)
4.    Kekuasaan ahli (expert power)
5.    Kekuasaan panutan (referent power)

Robbins (2007) juga memaparkan klasifikasi kekuasaan dari French dan Raven (1959). Berdasarkan  sumbernya yaitu kekuasaan formal dan personal. Kekuasaan formal merupakan kekuasaan yang berasal dari posisi formal individu pada suatu organisasi. Kekuasaan formal dapat bersumber coercive power, reward power, dan legitimate power.

Sementara kekuasaan personal merupakan kekuasaan yang muncul dari karakteristik individu. Kekuasaan personal dapat berasal dari expert power dan referent power

Daftar Pustaka
Leavitt, J.H., 1992 Psikologi Manajemen, Alih Bahasa Zarkasi, M., Jakarta: Penerbit Erlangga

Salehudin, Imam (2009) The 6th Power: Social/Network Power Pengembangan Konsep Social Capital pada Konteks Perilaku Individu. Manajemen Usahawan Indonesia. No. 03/TH. XXXVIII 2009. ISSN: 0302‐9859

Selasa, 13 Oktober 2015

Mempengaruhi Perilaku



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Perilaku adalah perbuatan/tindakan dan perkataan seseorang yang sifatnya dapat diamati, digambarkan dan dicatat oleh orang lain ataupun orang yang melakukannya. Perilaku individu atau sekelompok individu yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku secara umum dalam masyarakat sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Teori ini dikemukakan oleh Edwin M.Lemert, menurutnya seseorang berperilaku menyimpang karena proses labeling yang diberikan masyarakat kepadanya. Labeling adalah pemberian julukan, cap, etiket, ataupun kepada seseorang. Pada awalnya seseorang melakukan “penyimpangan primer” karena itu sang pelaku penyimpangan mendapatkan cap (labeling) dari masyarakat. Karena adanya label tersebut, maka sang pelaku mengidentifikasikan dirinya sebagai penyimpang dan mengulangi lagi penyimpangan itupun menjadi suatu kebiasaan atau gaya hidup bagi pelakunya

B.     Rumusan Masalah

1.      Definisi Pengaruh
2.      Kunci-kunci perubahan perilaku
3.      Faktor yang mempengaruhi perilaku
4.      Definisi Wewenang


C.     Tujuan Masalah

    Dapat memahami dan menjelaskan definisi pengaruh, macam-macam kunci perubahan perilaku, faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku, serta menjelaskan definisi wewenang.

2. MEMPENGARUHI PERILAKU
A.    Definisi Pengaruh
·         Middlebrook
Pengalaman Pribadi,pengalaman yang telah lalu maupun yang sedang kita alami ternyata memiliki pengaruh pada penghayatan kita terhadap suatu objek psikologi tertentu.
·         Freud
Faktor Emosional, suatu sikap tertentu terkadang merupakan suatu pernyataan yang di landasi oleh emosi yang fungsinya sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.
·         Azwar (1995)
Media massa,informasi baru mengenai sesuatu hal dapat memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap informasi tersebut.
B.     Kunci-kunci perubahan perilaku
·         Teori keseimbangan
Meliputi tekanan konsistensi di antara akibat-akibat dalam sistem kognitif yang sederhana.
·         Teori konsistensi kognitif-afektif
Bahwa pengetahuan ataupun keyakinan seseorang tentang suatu fakta tertentu sebagian di tentukan oleh pilihan afeksinya.
·         Teori ketidaksesuaian
Bahwa sikap akan berubah untuk mempertahankan konsistensinya dengan perilaku nyatanya.
·         Teori atribusi
Bahwa perubahan perilaku yang dilakukan seseorang memungkinkan timbulnya kesimpulan pada orang tersebut bahwa sikapnya telah berubah.

C.     Bagaimana mempengaruhi perilaku berbagai model
1.      Faktor Internal
Tingkah laku manusia adalah corak kegiatan yang sangat dipengaruhi oleh faktor yang ada dalam dirinya. Faktor-faktor intern yang dimaksud antara lain jenis ras/keturunan, jenis kelamin, sifat fisik, kepribadian, bakat, dan intelegensia. Faktor-faktor tersebut akan dijelaskan secara lebih rinci seperti di bawah ini.
a.       Jenis Ras/ Keturunan
Setiap ras yang ada di dunia memperlihatkan tingkah laku yang khas. Tingkah laku khas ini berbeda pada setiap ras, karena memiliki ciri-ciri tersendiri. Ciri perilaku ras Negroid antara lain bertemperamen keras, tahan menderita, menonjol dalam kegiatan olah raga.
Ras Mongolid mempunyai ciri ramah, senang bergotong royong, agak tertutup/pemalu dan sering mengadakan upacara ritual. Demikian pula beberapa ras lain memiliki ciri perilaku yang berbeda pula.
b.      Jenis Kelamin
Perbedaan perilaku berdasarkan jenis kelamin antara lain cara berpakaian, melakukan pekerjaan sehari-hari, dan pembagian tugas pekerjaan. Perbedaan ini bisa dimungkikan karena faktor hormonal, struktur fisik maupun norma pembagian tugas. Wanita seringkali berperilaku berdasarkan perasaan, sedangkan orang laki-laki cenderug berperilaku atau bertindak atas pertimbangan rasional.
c.       Sifat Fisik
Kretschmer Sheldon membuat tipologi perilaku seseorang berdasarkan tipe fisiknya. Misalnya, orang yang pendek, bulat, gendut, wajah berlemak adalah tipe piknis. Orang dengan ciri demikian dikatakan senang bergaul, humoris, ramah dan banyak teman
d.      Kepribadian
Kepribadian adalah segala corak kebiasaan manusia yang terhimpun dalam dirinya yang digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala rangsang baik yang datang dari dalam dirinya maupun dari lingkungannya, sehingga corak dan kebiasaan itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas untuk manusia itu. Dari pengertian tersebut, kepribadian seseorang jelas sangat berpengaruh terhadap perilaku sehari-harinya
e.       Intelegensia
Intelegensia adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah dan efektif. Bertitik tolak dari pengertian tersebut, tingkah laku individu sangat dipengaruhi oleh intelegensia. Tingkah laku yang dipengaruhi oleh intelegensia adalah tingkah laku intelegen di mana seseorang dapat bertindak secara cepat, tepat, dan mudah terutama dalam mengambil keputusan.


f.       Bakat
Bakat adalah suatu kondisi pada seseorang yang memungkinkannya dengan suatu latihan khusus mencapai suatu kecakapan, pengetahuan dan keterampilan khusus, misalnya berupa kemampuan memainkan musik, melukis, olah raga, dan sebagainya
2.      Faktor Eksternal
a.       Pendidikan
Inti dari kegiatan pendidikan adalah proses belajar mengajar. Hasil dari proses belajar mengajar adalah seperangkat perubahan perilaku. Dengan demikian pendidikan sangat besar pengaruhnya terhadap perilaku seseorang. Seseorang yang berpendidikan tinggi akan berbeda perilakunya dengan orang yang berpendidikan rendah.
b.      Agama
Agama akan menjadikan individu bertingkah laku sesuai dengan norma dan nilai yang diajarkan oleh agama yang diyakininya.
c.       Kebudayaan
diartikan sebagai kesenian, adat istiadat atau peradaban manusia. Tingkah laku seseorang dalam kebudayaan tertentu akan berbeda dengan orang yang hidup pada kebudayaan lainnya, misalnya tingkah laku orang Jawa dengan tingkah laku orang Papua.
d.      Lingkungan
adalah segala sesuatu yang ada di sekitar individu, baik lingkungan fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan berpengaruh untuk mengubah sifat dan perilaku individu karena lingkungan itu dapat merupakan lawan atau tantangan bagi individu untuk mengatasinya. Individu terus berusaha menaklukkan lingkungan sehingga menjadi jinak dan dapat dikuasainya.


e.       Sosial Ekonomi
Status sosial ekonomi seseorang akan menentukan tersedianya suatu fasilitas yang diperlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga status sosial ekonomi ini akan mempengaruhi perilaku seseorang.
D.    Wewenang
            Secara etimologis, kata wewenang berasal dari kata dasar “wenang” dan merupakan terjemahan dari competentie (Bahasa Inggris) atau bevoegdheid serta gezag (Bahasa Belanda). Dalam kamus besar Bahasa Indonesia wewenang diartikan sebagai hak dan kekuasaan untuk bertindak. Pengertian itu tidak sama dengan pengertian yang dikemukakan oleh para ahli hukum. Menurut Prajudi Atmosudirdjo, seorang ahli pada bidang hukum administrasi berpendapat tentang pengertian wewenang, dalam kaitannya dengan kewenangan sebagai berikut:
            Kewenangan (authority,gezag) adalah apa yang disebut “kekuasaan formal”, kekuasaan yang berasal dari kekuasaan legislatif (diberi oleh undang-undang) atau dari kekuasaan eksekutif administratif. Kewenangan dimaksud biasanya terdiri atas beberapa wewenang (kekuasaan terhadap segolongan orang-orang tertentu atau kekuasaan terhadap sesuatu bidang pemerintahan atau bidang urusan) tertentu yang bulat, sedangkan wewenang hanya mengenai sesuatu onderdil tertentu saja.

DAFTAR PUSTAKA
Dr. I Made Arya Utama, S.H..M.H (Hukum Lingkungan)
Mar’at. 1984. SIKAP MANUSIA PERUBAHAN SERTA PENGUKURANNYA. Bandung: Ghalia Indonesia.

Selasa, 06 Oktober 2015

Komunikasi

BAB I
PENDAHULUAN
 
 
A.    Latar Belakang
 
Komunikasi merupakan aktifitas dasar manusia. Melalui komunikasi manusia dapat saling berhubungan satu sama lain baik dalam kehidupan seharihari di rumah ditempat kerja, pasar, masyarakat, atau dimanapun manusia berada. Tidak ada manusia yang tidak ada terlibat dalam komunikasi. Komunikasi begitu sangat penting dalam kehidupan manusia, karena harus diakui bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa komunikasi karena manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain, dengan berkomunikasi secara efektif maka, kegitan-kegitan yang sering dilakukan manusia bisa berjalan dengan baik. Tanpa adanya komunikasi dengan baik mengakibatkan ketidak teraturan dalam melakukan kegiatan sehari-hari baik itu di rumah maupun dalam suatu organisasi, perusahaan dan dimanapun manusia itu berada. 
 
B.     Rumusan Masalah
 
       1. Definisi komunikasi
       2. Dimensi Komunikasi
 
C.     Tujuan Masalah 
Dapat memahami dan menjelaskan definisi komunikasi, dimensi komunikasi yang meliputi Isi, Kebisingan, Jaringan dan Arah.
 
 
BAB II
TEORI
 
 
A.    Definisi Komunikasi
 
Komunikasi adalah proses penyampaian pesan kepada orang lain. Itu definisi, makna, arti, atau pengertian komunikasi (communication) secara praktis atau dalam praktik kehidupan sehari-hari. Pesan (message) itu bisa berupa informasi, pemberitahuan, keterangan, ajakan, imbauan, bahkan provokasi atau hasutan. Kata kunci dalam komunikasi adalah pesan itu. Dari pesan itulah sebuah proses komunikasi dimulai. Komunikasi terjadi karena ada pesan yang ingin atau harus disampaikan kepada pihak lain.
 
        1. Definisi komunikasi menurut para ahli :

a. Everett M. Rogers, Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku mereka. (pengantar Ilmu komunikasi, 1998, hal 20, Prof. Dr. Hafied Cangara, M. Sc.) (Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar , 2005, hal 62, Dedy Mulyana).

b. Rogers & D. Lawrence Kincaid, 1981, Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam. (pengantar Ilmu komunikasi, 1998, hal 20, Prof. Dr. Hafied Cangara, M. Sc.).

c. Shannon & Weaver, 1949, Komunikasi adalah bentuk interaksi manusia yang saling pengaruh mempengaruhi satu sama lainnya, sengaja atau tidak sengaja. Tidak terbatas pada bentuk komunikasi menggunakan bahasa verbal, tetapi juga dalam hal ekspresi muka, lukisan, seni, dan teknologi. (pengantar Ilmu komunikasi, 1998, hal 20, Prof. Dr. Hafied Cangara, M. Sc.).

d. David K. Berlo, 1965 Ilmu pengantar komunikasi Komunikasi sebagai instrumen dari interaksi sosial berguna untuk mengetahui dan memprediksi setiap orang lain, juga untuk mengetahui keberadaan diri sendiri dalam memciptakan keseimbangan dengan masyarakat. (pengantar Ilmu komunikasi, 1998, hal 3, Prof. Dr. Hafied Cangara, M. Sc.).
 
B.     Dimensi Komunikasi
 
            1. Isi
Dimensi isi disandi secara verbal dan menunjukkan muatan (isi) komunikasi, yaitu apa yang dikatakan. Dalam komunikasi massa, dimensi isi merujuk pada isi pesan.

            2. Kebisingan
Kebisingan adalah tinggi rendahnya suara yaang terdengar dalam melakukan komunikasi.

            3. Jaringan
Jaringan adalah sejauh mana seseorang meluaskan jangkauan informasinya dalam melakukan komunikasi. Diantaranya ada komunikasi yang bergantung  pada (jaringan satelit).

            4. Dimensi Arah
Komunikasi dalam konteks ini dibagi menjadi dua, yaitu komunikasi satu arah dan komunikasi dua arah. Komunikasi satu arah merupakan satu orang memberikan informasi kepada orang lainnya tanpa ada timbal balik, sedangkan komunikasi dua arah merupakan komunikasi dimana satu orang memberikan informasi ke orang lain, dan orang lain juga memberikan informasi, sehingga terjadi pertukaran informasi diantara keduanya.
 
 
 
DAFTAR PUSTAKA
 
Munandar, Ashar Sunyoto. 2008. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press).
 Effendy,Onong,  Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek, Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994.

Jumat, 03 Juli 2015

Pengaruh Psikologis dalam Sibling Rivalry pada Anak



Latar Belakang

Banyak orang berharap bahwa tujuan daripada orang yang menikah ialah mendapatkan anak, dengan harapan mereka dapat meneruskan garis keturunan mereka. Saat ini kita jarang sekali menemukan psangan suami istri yang hanya memiliki satu orang anak, umumnya pasangan suami istri memiliki lebih dari satu anak. Berbagai alasan muncul sebagai penyebab lahirnya saudara kandung, beberapa diantaranya adalah program pemerintah dengan slogan “dua anak lebih baik”, mitos “banyak anak banyak rezeki”, dan yang terakhir agar kelak bila pasangan suami istri itu meninggal, anak mereka masih memiliki saudara kandung jadi mereka tidak sendiri saat orang tua mereka telah tiada. Namun sayangnya para orang tua kurang menyadari akibat dari adanya saudara kandung dan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan bila anak memiliki saudara kandung. Namun, hal yang menarik adalah bagaimana sang ibu menjaga kerukunan antar saudara kandung tersebut. Anak pertama yang didominasi oleh menguasai sementara si adik memiliki daya saing yang cukup kuat.

Dalam hal ini, orang tua harus memperhatikan kepribadian anak-anaknya terutama pada anak pertama karena ia sempat menjadi anak tunggal, dimana perhatian dan kasih sayang berpusat hanya kepadanya. Orang tua harus melihat bagaimana reaksi-reaksi yang mungkin muncul pada anak pertama ketika ia memiliki seorang adik. Dalam hal ini akan timbul rasa persaingan dalam diri anak terhadap saudara kandungnya atau dalam psikologi disebut sibling rivalry. Hal rasa persaingan yang akan muncul pertama kali pada anak pertama karena pada perhatian yang dulu hanya pada dirinya sekarang harus dibagi oleh saudaranya sendiri, dalam hal ini tentu anak pertama akan muncul perasaan cemburu akan perhatian orang tuanya. Rasa cemburu anak bisa kita lihat dari tingkah laku mereka. Jika rasa itu dibiarkan saja, maka tidak menutup kemungkinan mereka akan kurang dapat hidup bahagia secara psikologis karena ia merasa terancam dengan hadirnya saudara kandungnya. Dikhawatirkan anak tidak Diharapkan dalam penulisan ini, para orang tua dapat lebih memerhatikan kepribadian dari anak-anaknya dan menjaga kerukunan antara hubungan saudara kandung tersebut



Pembahasan
Ketika seorang laki-laki dan wanita mernikah, mereka pasti menginginkan serang anak demi menambah garis keturunan. Dalam hal ini, sepasang suami-istri tersebut biasanya tidak hanya menginginkan hanya satu anak. Dengan berbagai pertimbangan, kita sering menjumpai sebuah keluarga dimana memiliki lebih dari dua anak. Tapi sayangnya, saat ini masih banyak pasangan suami istri yang sering melewatkan dampak psikologis anak mereka.

Saat anak pertama lahir, maka semua perhatian dan cinta akan tercurahkan kepada anak tersebut. Semua hal-hal yang terbaik akan diberi kan oleh anak tersebut, si anak akan merasa dirinya yang menjadi nomor satu. Hal ini akan menimbulkan sifat manja di diri anak tunggal tersebut. Akan tetapi, ketika ia memiliki saudara kandung maka secara otomatis perhatian yang ia dapat harus terbagi dengan saudara kandungnya. Hal ini akan menimbulkan sebuah peristiwa yang dramatis akan mengubah situasi dan cara pandang anak terhadap dunia. Dalam hal ini, orang tua perlu memerhatikan jarak umur antara kedua anak. Jika anak sulung berumur tiga tahun atau lebih saat adiknya lahir, mereka akan menggabungkan peristiwa ini ke dalam gaya hidup mereka sebelumnya yang telah terbentuk. Jika si anak sulung berusia kurang dari tiga tahun maka permusuhan dan kemarahan mereka sebagian besar terjadi secara tidak sadar, yang membuat sikap-sikap ini akan sulit diubah di kehidupan selanjutnya. Para orang tua juga harus peka mengenai gaya hidup anak sulungnya. Jika mereka telah telah membentuk gaya hidup yang bisa bekerja sama maka ia akan memakai sikapnya tersebut kepada adiknya. Namun, apabila mereka telah membentuk gaya hidup yang berpusat kepada dirinya sendiri (self-centered) maka kemungkinan besar mereka akan merasakan kemarahan, permusuhan dan persaingan kepada bayi yang baru lahir. Dalam dunia psikologi, rasa persaingan kepada saudara sendiri disebut dengan sibling rivalry. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) persaingan adalah usaha memperlihatkan keunggulan masing-masing yang dilakukan oleh perseorangan. Kata dasar dari persaingan adalah saing, hal ini menurut KBBI yang berarti adalah berlomba (atas-mengatasi, dahulu-mendahului). Selain itu, meurut KBBI, saudara adalah:
1 orang yang seibu seayah (atau hanya seibu atau seayah saja); adik atau kakak
2 orang yang bertalian keluarga; sanak
3 orang yang segolongan (sepaham, seagama, sederajat, dsb); kawan; teman
4 sapaan kepada orang yang diajak berbicara (pengganti orang kedua)
5 segala sesuatu yang hampir serupa (sejenis dsb)
6 tembuni

Dalam pembahasan ini kita hanya mengambil arti dari saudara nomor 1. Hal ini dikarenakan akan berhubungan dengan apa yang akan dibahas dalam makalah ini. Setelah menemukan arti dari kata persaingan dan saudara, maka dapat disimpulkan bahwa persaingan saudara adalah usaha memperlihatkan keunggulan kepada adik atau kakak, dalam hal ini mereka berlomba saling dahulu mendahului adik atau kakaknya. Pengertian sibling rivalry menurut Shaffer (2002) adalah suatu kompetisi, kecemburuan, dan kebencian antara saudara kandung yang seringkali muncul saat hadirnya saudara yang lebih muda. Sedangkan menurut kamus kedokteran Dorland (2008) Sibling rivalry adalah kompetisi antara saudara kandung untuk mendapatkan cinta kasih, afeksi dan perhatian dari satu kedua orang tuanya, atau untuk mendapatkan pengakuan atau suatu yang lebih. Sementara itu menurut Schaefer dan Millman (1981) sibling rivalry adalah menunjuk kepada persaingan, kecemburuan, dan kemarahan antar saudara kandung baik laki-laki maupun perempuan 

Persaingan antar saudara umunya terjadi pada anak pertama yang jarak umurnya tidak terlalu jauh dengan anak yang kedua (1-3 tahun). Menurut Adler, pertengkaran anak-anak berdasarkan usaha bawah sadar untuk mendapatkan kekuasaan.

 

Tapi, ketika ia memiliki seorang adik, otomatis perhatian yang awalnya semua ke anak tunggal tadi harus terbagi kepada adiknya. Hal ini akan menimbulkan kecemburuan. Karen Horney, seorang tokoh psikoanalisis sosial mengungkapkan bahwa dalam hal ini, anak akan merasa kebutuhan mereka tidak terpenuhi, maka pada hal ini anak akan menimbulkan permusuhan dasar. Tapi, biasanya anak jarang mengungkapkan kemarahan mereka karena takut akan reaksi dari orang tua apabila mereka mengeluarkannya. Rasa permusuhan tadi akhirnya ditekan oleh sang anak sehingga akan muncul rasa cemas, dalam hal ini akan muncul kecemasan dasar. Permusuhan dan kecemasan dasar diyakini Horney saling berkaitan satu sama lain dan tidak menjadi masalah apakah kecemasan dasar yang akan muncul ataukah permusuhan dasar yang akan muncul pertama.
Dalam hal ini orang tua harus mengerti betul bagaimana kepribadian anak pertama. Anak pertama harus diberi penjelasan mengenai perhatian, cinta dan kasih sayang yang akan dia dapatkan tidaklah sama apabila ada saudara kandungnya yang lahir. Apabila si anak masih tidak menerima penjelasan tersebut, maka ia akan melakukan berbagai cara agar mendapat perhatian itu kembali. Salah satunya adalah dengan bertingkah laku seperti tahap perkembangan sebelumnya


Contoh: Seorang anak yang memiliki seorang adik. Karena tidak terima orang tuanya membagi perhatian kepada adiknya, maka anak sulung tersebut mengompol demi mendapat perhatian orang tuanya.
Contoh diatas merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri milik Sigmund Freud, seorang tokoh psikoanalisa. Freud mengkatagorikan mekanisme pertahanan diri tersebut sebagai regresi. Regresi ialah kemunduran dari tahapan perkembangan individu. Cara ini menunjukkan kecemasan pada anak sulung terhadap perhatian orang tuanya. Namun sayangnya, banyak orang tua yang tidak mengerti maksud yang diinginkan anak pertamanya

Tidak hanya kembali pada masa perkembangan sebelumnya, anak pertama juga mungkin akan melakukan hal-hal yang baik terhadap adiknya. Hal ini semata untuk mendapatkan penerimaan diri dan juga ingin mendapatkan kasih sayang dari orang tua. Menurut Horney, dalam hal ini anak memiliki kebutuhan neurotik akan kasih sayang dan penerimaan diri 


Peran orang tua dalam meminimalisir rasa bersaing terhadap saudara sangat penting. Orang tua harus peka terhadap perubahan psikologis maupun sikap dari sang anak. Hal yang sering terjadi adalah ketika orang tua menyuruh sang anak (A) untuk membantu ibunya dalam waktu yang bersamaan A berada dalam kondisi lelah. Hal ini justru menimbulkan kesan “Mengapa harus saya/saya terus yang harus melakukan ini?” Apabila hal ini tidak dirasakan oleh orang tua dan dibiarkan  terus menerus maka akan terjadi perselisihan antara anak dan orang tua. Melihat kondisi anak dan membiarakannya baik-baik bisa menjadi solusi alternatif dalam memecahkan perselisihan tersebut. Pengaruh dari adanya sibling rivalry adalah meningkatnya agresi. Agresi adalah tingkah laku yang bertujuan untuk menyakiti makhluk hidup yang tidak menghendaki diperlakukan demikian (Baron, Branscombe, Byrne, 2008:338). Agresi terbagi menjadi 2, yaitu agresi instrumental (instrumental aggression) yaitu agresi yang ditujukan untuk pencapaian suatu tujuan. Selain agresi instrumental, terdapat agresi permusuhan (hostile aggression) yaitu agresi yang ditujukan untuk menyakiti target agresi yang seringkali berbentuk relasional (sosial) daripada terbuka (fisik). Maka tidak jarang kita sering menemukan saudara sekandung yang suka berkelahi

Pada anak pertama cenderung memiliki perasaan berkuasa dan superioritas yang kuat, kecemasan tinggi, serta kecenderungan untuk over protektif. Anak pertama akan menunjukkan persona kepada orang-orang sebagai diri yang kuat. Persona adalah topeng yang ditunjukkan kepada orang-orang. Ia memakai persona sebagai diri yang kuat karena adanya tuntutan dari lingkungannya. Sebagai orang yang selalu mengawasi anak-anaknya, orang tua harus jeli melihat persona yang ditunjukkan dengan kepribadian aslinya. 

Untuk anak kedua memiliki daya saing yang cukup kuat, karena dalam dirinya ia harus ‘mengalahkan’ anak pertama. Pada anak kedua, dia akan terus dibayangi oleh kakaknya. Jika kakaknya menunjukkan rasa permusuhan, anak kedua akan cenderung memiliki sikap inferior (tidak berdaya). Mendengarkan isi hati mereka terutama anak pertama dirasa perlu, orang tua dan anak akan dapat bertukar pikiran sehingga kita dapat mengetahui apa yang dirasakan oleh anak dan apa yang harus kita lakukan agar mengurangi tingkat kecemasan dan rasa cemburu pada anak.

Saudara sekandung memengaruhi perkembangan gender satu sama lain. Sebuah penelitian longitudinal selama 3 tahun terhadap 198 saudara sekandung, anak kedua cenderung menjadi lebih mirip dengan kakaknya dalam sikap yang berkaitan dengan gender, kepribadian, dan kegiatan waktu luang. Anak pertama lebh dipengaruhi oleh orang tua dan kurang dipengaruhi oleh adiknya (McHale, Updegraff, Helms-Erikson, dan Crouter, 2001).

Saudara sekandung saling memengaruhi, tidak hanya secara langsung melalui interaksi tapi juga secara tidak langsung melalui dampak mereka pada hubungan masing-masing dengan orang tua. Secara spesifik, pengalaman orang tua dengan saudara sekandung yang lebih tua memengaruhi pengharapan dan perlakuan mereka kepada yang lebih muda (Brody, 2004). Pola perilaku juga yang perlu dibangun dengan orang tua cenderung “meluber” pada perilaku anak dengan saudara sekandung (Brody. Stoneman, dan Gauger, 1996).



Kesimpulan
Banyak hal yang perlu diperhatikan bila ingin memiliki keturunan lebih dari satu anak. Selain ekonomi, diperlukan pengetahuan psikologis mengenai dampak dari adanya saudara kandung. Semakin para orang tua memiliki wawasan yang baik terhadap adanya dampak dari saudara kandung, maka diharapkan akan dapat meminimalisir rasa persaingan antar saudara kandung (sibling rivalry). Orang tua sebagai mediator dan tidak memihak kepada salah satu anak juga dapat menjadi solusi untuk meminimalisir rasa persaingan antara anak pertama dengan anak yang lainnya. 

Diperlukan pendekatan agar anak pertama mau menerima kehadiran saudara kandungnya. Terlalu cepat memarahi anak karena ia melakukan sesuatu yang ia harusnya lakukan pada sebelum masa perkembangannya dirasa kurang tepat, para orang tua harus mengetahui penyebab mereka melakukan tindakan tersebut

Rasa cemburu dalam diri anak pertama dapat diredakan apabila adanya penjelasan yang baik dari orang tua. Meskipun tidak dapat langsung hilang rasa cemburu itu, setidaknya ada pengurangan rasa cemburu sehingga anak tersebut tidak merasakan cemburu lagi. Orang tua yang harus mendekatkan antara anak pertama dan kedua juga harus memerhatikan sisi psikologis dari anak pertama. Mendengarkan isi hati mereka merupakan salah satu cara agar dapat menjalin hubungan baik dengan adiknya.

Saran
Dalam hal ini, peran orang tua sangat penting dalam melihat perkembangan psikologis anak dalam fenomena sibling rivalry tersebut. Memihak pada salah satu anak dan membanding-bandingkan antar saudara merupakan salah satu hal yang harus dihindari dalam mencegah kecemburuan pada saudara kandungnya. Ketenangan emosi orang tua juga sangat perlu disadari agar tidak membawa masalah lain dan agar anak tetap patuh dan hormat kepada orang tua mereka.



Daftar Pustaka
Feist, Jess & Feist, Georgory J. (2014). Teori Kepribadian, Theories of Personality. Jakarta:Salemba Humanika
Papalia, Diana E, Olds & Feldman, Ruth Duskin. Perkembangan Manusia, Human Development. Jakarta:Salemba Humanika